Rabu, 15 Januari 2014

Primadona

Opera kehidoepan
Segala jang dipoenja
Boekan milik kita
Bahkan toeboeh dan djiwa
Tjoema pindjaman belaka
Harus rela djika diminta


 Judul: Primadona
Pengarang: N. Riantiarno
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Maret 2006

Tenang. Sisanya akan dituliskan dalam Ejaan yang Disempurnakan :D

Di Batavia, pada suatu masa, dua perempuan bersaing menjadi primadona.
Inilah kisah Kedjora, gadis dusun yang namanya naik secara tak terduga.
Ini juga kisah Miss Ketjoeboeng, primadona yang mulai luntur ketenarannya.
Dengan segala cara, Miss Ketjoeboeng berusaha menghadang langkah Kedjora yang semakin mantap menjadi seorang bintang baru.
Kedjora pun menjadi rebutan dua grup opera yang terkenal pada masa itu. Tanpa ia sadari, semakin jauh ia masuk ke dalam intrik dan skandal terselubung di tengah tepuk tangan serta decak kagum para penggemarnya.
HANJA ADA SATOE PRIMADONA
NJANG LAEN TJOEMA EMBEL-EMBEL SADJA!

***
Yah, ini bukan hanya tentang Kedjora dan Ketjoeboeng saja. Setidaknya ada Oembara, Baling, Petro, dan Tio sehingga kisah ini menjadi utuh.

Ini kisah sebuah opera yang didominasi oleh seorang primadona. Terlalu lama didominasi. Seolah semua yang ada dalam opera tersebut tercipta hanya untuk melayani dan menyokong sang Primadona bertengger di puncak ketenarannya. Aktor lain tidak diperbolehkannya berkembang. Apalagi ada tanda-tanda calon primadona, sudah pasti ancaman harus segera dibasmi. Ialah Miss Ketjoeboeng, yang mendirikan Opera Miss Ketjoeboeng bersama sang produser sekaligus juga suaminya, Tuan Petro.
Di samping Miss Ketjoeboeng, ada Rama Oembara, sang aktor primadona andalan Opera Miss Ketjoeboeng. Duo ini yang selalu main lakon utama saat di panggung. Sama-sama berkharisma dan memukau di atas panggung, sama-sama suka main gila di belakang panggung. Miss Ketjoeboeng main gila dengan para lelaki pemujanya, demi merasakan kesenangan dipuja-puji. Oembara, main gila demi melepaskan dirinya dari tekanan Miss Ketjoeboeng karena dirinya sebagai aktor tak berkembang jua.  Memainkan lakon yang itu-itu saja. Judul opera yang itu-itu saja. Karena primadona yang itu-itu saja (baca: Miss Ketjoeboeng) inginnya keadaan tetap seperti itu saja.
Para anggota opera lain, memilih pasrah atas nasibnya. Namun saat tanda-tanda primadona jelas terlihat pada Kedjora, seluruh anggota mendukung baik terang-terangan maupun tidak.
Rama Oembara malah mengambil tindakan ekstrim. Ia memutuskan mendirikan opera sendiri, dengan ia dan Kedjora menjadi primadonanya. Namun apa hendak dikata, ternyata Kedjora lebih memilih setia pada yang memungutnya dulu saat kecil, Petro. Akhirnya Oembara pergi tanpa membawa Kedjora.

Dengan hilangnya Oembara, otomatis drama-yang-itu-itu-saja tak bisa dilakonkan dengan sempurna. Tak sempurna rasanya jika Oembara tak turut memainkan. Maka sebuah rencana disusun sembunyi-sembunyi. Kedjora disiapkan menjadi Primadona! Secercah harapan menyinari para anggota opera. Akhirnya, akan ada angin segar bagi opera ini!

Namun sayang, rencana ini keburu tercium oleh Miss Ketjoeboeng. Bukan main dongkol dan gelisah hatinya. Serta merta rencanapun disusun. Dari mulai menikahkan Kedjora dengan Baling (padahal Kedjora senang dan disenangi Oembara. Baling pada Kedjora hanya bertepuk sebelah tangan). Sengaja memilih Baling yang hanya badoet dalam opera agar namanya tak terangkat akibat pernikahannya itu. Lalu meminta dirinya jadi lakon utama dalam naskah terbaru yang sebenarnya disusun untuk Kedjora. (Dengki dan iri hatinya bukan main....minta peran umur 17 tahun padahal dirinya sudah berumur 30 tahun K)

Semuanya jadi makin kacau saat Kedjora kena guna-guna di tengah pentas. Semua anggota Opera menyalahkan Miss Ketjoeboeng atas kejadian ini. Petro habis kesabaran dengan perilaku Miss Ketjoeboeng selama ini. Kedjora telanjur sakit hati. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Kedjora akan membalas dendam? Bagaimana nasib Opera Miss Ketjoeboeng?

***
Novel yang satu ini terasa berbeda. Pake banget. Settingan dunia opera berpadu latar waktu tahun 1925, kurang cakep apa cobaa :D. Kalau dilihat tokohnya sih...emmm....berasa liat film zaman 80-an atau 90-an gitu kali ya. Bisa melakukan hal ekstrim hanya karena hal sepele (atau dengan kata lain...karakter tokohnya dangkal). Konfliknya agak pelik (dan tragis), jadi nilai tambah buat novelnya. Kalau bosen baca novel yang rasanya gitu-gitu aja, Primadona wajib dicoba J

4 of 5  



Kehidoepan opera
Tjandoe kehidupan
Tjahaja gemilang
Tawa ria bahagia
Tangis menghiba-hiba
Hanja sandiwara belaka

Kehidoepan opera
Nikmat sesaat
Kenjataan hidoep
Tak seperti itoe
Saat sadar dan terdjaga
Hanja rasa sakit belaka

Opera kehidoepan
Segala jang dipoenja
Boekan milik kita
Bahkan toeboeh dan djiwa
Tjoema pindjaman belaka
Harus rela djika diminta

Jang kita punja
Hanja rasa sakit belaka

Rasa sakit belaka

0 komentar:

Poskan Komentar