Rabu, 23 Mei 2012

Three Cups of Tea




Judul Buku: Three Cups of Tea
Penerbit: Hikmah
Tahun Terbit: 2008
Penulis: Greg Mortenson dan David Oliver Relin

Setelah gagal memenuhi ambisinya mencapai puncak K2, Mortenson terseok-seok menuruni lereng gunung. Dalam keadaan kehabisan perbekalan dan sakit, dia berharap tiba di Askole secepatnya untuk memperoleh yang ia perlukan. Namun alih-alih sampai di Askole, Mortenson ambruk di depan gerbang desa Korphe.
“… (Di Pakistan dan Afghanistan), kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis; pada cangkir pertama engkau masih orang asing; cangkir kedua, engkau teman; dan pada cangkir ketiga, engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap untuk berbuat apa pun—bahkan untuk mati.”
Demikian ucap Haji Ali, Kepala Desa Korphe. Kehangatan seperti inilah yang diberikan oleh suku Balti, suku yang hidup di daerah terpencil, jauh tersembunyi di kaki gunung K2 kepada George Mortenson. Disana ia dirawat dengan baik oleh penduduk desa. Maka ketika dia menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak Korphe bersekolah: duduk melingkar, berlutut di tanah yang membeku, dalam udara dingin, tertib mengerjakan tugasnya, jantungnya serasa tercerabut.
“Aku akan membangun sebuah sekolah untuk desa ini. Aku berjanji.”
Maka dimulailah perjalanan seorang George Mortenson. Dari awalnya satu sekolah berdiri demi terpenuhi janji pada penduduk Korphe, lalu bertambah lagi lima puluh buah sekolah dalam satu dekade di daerah tempat lahirnya Taliban itu.
Kisah ini bukan sekedar jalan lurus saja. Banyak rintangan dan masalah yang dihadapi Mortenson. Namun begitu, ia tetap tak patah arang. Tak peduli meski ia tak punya uang bahkan untuk menghidupi dirinya sendiri; meski sempat tertawan saat konflik; meski berbeda latar suku, budaya, dan agamanya. Semua itu tak menghalanginya untuk mewujudkan kepeduliannya pada anak-anak di Pakistan dan Afghanistan agar mereka mendapat pendidikan yang layak. Maka Mortenson patut dijadikan inspirasi bagi kita mengenai kepedulian terhadap sesama manusia :).


Membaca buku ini, rasanya benar-benar mengikuti langkah Mortenson satu per satu dalam perjalanan panjangnya. Butuh total waktu dua setengah bulan untuk merampungkan buku ini. Saya katakan, buku ini benar-benar kaya akan inspirasi dan nilai-nilai mulia. Sayangnya, buku ini tidak dibuka dengan manis oleh penulisnya, sehingga banyak pembaca lain yang lelah di awal. Begitupun yang saya alami. Bagian awal buku ini, alur campuran yang digunakan terasa acak dan belepotan sehingga sulit dicerna. Selain itu juga, kadang-kadang saya menemukan kalimat-kalimat yang strukturnya menggantung. Namun karena kisahnya sendiri terlampau  luar biasa, saya beri empat bintang untuk buku ini. Lima bintang untuk kisah Mortenson dan minus satu untuk cara penulisan bukunya :).

3 komentar:

Tezar mengatakan...

jadi tambah penasaran ama nih buku

Annisa Anggiana mengatakan...

Sama deh pendapatnya. Apa yang bikin terus bertahan baca buku ini memang kisahnya yang luar biasa, walau cara penulisannya bikin konsentrasi gampang buyar :) hehe.

kanesty mengatakan...

@Tezar: ayo baca bukunya..tapi saya saranin harus penuh niat bacanya supaya bisa ngikutin ceritanya sampai akhir :D
@annisa: iya banget.. pas bab-bab awal, saya suka membaca halaman yang sama berkali-kali karena ga nangkep maksud penulisnya. tapi makin lama (untungnya) makin ngalir ceritanya :)

Posting Komentar