Jumat, 01 Juni 2012

Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Pengarang: Tere Liye
Penerbit: Republika
Tahun Terbit:Januari 2012 (Cetakan VIII)

Seorang pemilik kongsi bisnis yang sedang sekarat, pada suatu malam.
Setelah enam bulan terbaring dibelit infus dan banyak selang tanpa perkembangan berarti, ia menunjukkan kemajuan.
Kemajuan besar, begitu anggapan para dokter terbaik yang dikerahkan untuk merawatnya.
 ***


Saat tersadar, Ray--nama pasien itu--bertanya-tanya mengapa ia tidak berada di ranjangnya di rumah sakit. Alih-alih di tempatnya terbaring tak berdaya, ia berada di sebuah terminal. Lebih mengherankan lagi, di sampingnya ada seorang misterius yang saat berbicara, seakan mengenal dirinya, mengetahui setiap jengkal kehidupan Ray, bahkan melebihi Ray sendiri. Mengajak Ray mengenang potongan-potongan masa lalunya, pahit getir yang dilaluinya. Manis yang pernah dirasakannya. Menjawab pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidupnya.

Mengapa ia harus dibesarkan di panti asuhan sialan itu? Apakah kami memang tidak memiliki kesempatan untuk memilih saat akan dilahirkan?

Apakah hidup ini adil?

Mengapa langit tega sekali mengambil Fitri?
Mengapa aku merasa hampa, padahal aku telah memiliki segalanya?
Mengapa aku harus mengalami semua rasa sakit?Mengapa Tuhan tidak langsung menjemputnya saja?

Siapa yang tahu apa yang sebenarnya dialami oleh pasien itu? Para dokter itu tidak tahu. Suster yang setia menjaganya pun tidak tahu. Kerabat? Keluarga? Pasien itu tidak punya. Hanya ia, Tuhan, dan seorang lelaki misterius yang tahu.


Oh tunggu, bahkan sang pasien pun tidak tahu apa yang sedang ia alami. Seperti halnya pembaca, ia akan terus bertanya-tanya, hingga tiba di penghujung kisah ini.

Saya dan Ray, memahami banyak hal dari seorang tua yang bijak (Nabi Khidir, i guess). Membuka mata untuk melihat banyak hal dari berbagai sisi. Nah, setelah saya dan Ray, sekarang giliran teman-teman (yang belum baca) :).

***
Hmmm...
Hmmm...
Hmmm...
Saya sungguh salut pada beliau yang selalu menghadirkan nuansa dan ide berbeda dalam setiap buku/ serialnya. Beliau menuangkan idenya dengan cara yang cemerlang namun menyampaikannya pada kita para pembaca dengan kata-kata sederhana. Langsung mengena!
 
Tapi jujur, mungkin buku ini tidak akan termasuk dari jejeran buku Tere Liye favorit saya. Terlalu fiksi, hehe.


4 komentar:

Annisa Anggiana mengatakan...

Udah baca yang Bidadari2 Surga? Lebih rame dari yang ini.. Sunset bersama Rosi & Kau, aku dan sepucuk angpau merah juga rame.. :D

kanesty mengatakan...

beluum...next target kayanya yang Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah deh :D

Berlian Yoga Ardana mengatakan...

Kehidupan itu selalu adil dan pasti ada sebab akibatnya...:)

cuma kata kata mengatakan...

Terlalu Fiksi ya :(


Saya suka sekali dengan bUku ini... bahkan dari Judul2 yang dipakai saya sangat menikmati like Aku Rinai :)

Posting Komentar