Sabtu, 11 Februari 2012

The Amulet of Samarkand: The Bartimaeus Trilogy

Judul: The Amulet of Samarkand
Pengarang: Jonathan Stroud
dialih-bahasakan oleh Poppy Damayanti C.
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: Maret 2010 (Cetakan kelima)

Bukan. Ini adalah dunia yang samasekali lain dari Harry Potter.

   Dijual oleh orangtuanya pada pemerintah saat berumur lima tahun, Nathaniel diserahkan dalam bimbingan seorang penyihir kelas menengah di Kementrian Dalam Negeri sebagai murid. Sang Master, Arthur Underwood: penyendiri, sulit diajak kerjasama, dan tak menginginkan seorang murid pun untuk dididik. 
   Sebenarnya, Nath tak terlalu peduli dengan sikap masternya yang menganggap dirinya angin lalu. Pengetahuan yang dipelajarinya tanpa sepengetahuan Mr. Underwood, ia sembunyikan rapat. Namun saat beberapa penyihir bertamu dan menghina Nath, ia tak dapat menahan diri. Merasa harga dirinya terluka, ia  segera meutar otak untuk membalaskan dendamnya kepada orang yang merendahkannya, Simon Lovelace. 
   Maka ia pun memutuskan untuk mencuri barang yang amat berharga bagi Lovelace. Setelah melakukan penyelidikan awal, ia akhirnya memilih Amulet Samarkand. Namun tentunya tak mudah. Karena itu, Nath memanggil Bartimaeus, jin level empat yang bawel dan sarkastis.
***
  Dipanggil oleh seorang bocah berumur duabelas tahun? Cih. Pastilah anak itu hanya sedang bermain-main, atau apapun perintahnya, pastilah tugas enteng yang hanya membutuhkan sedikit waktu. 
   Itu perkiraan awal Bartimaeus. Ditambah fakta bahwa ini pemanggilan pertama yang dilakukan Nath, Bartimaeus semakin bersemangat menakut-nakuti dan mengolok-olok masternya. Maka saat ia diperintahkan untuk mengambil jimat berkekuatan magis tinggi, ia mulai bertanya-tanya apa tujuan masternya. 
   Konyol adalah saat anak itu sendiri tidak tahu kekuatan dan kegunaan jimat yang ingin dicurinya itu. Konyol adalah saat anak tersebut tidak menyadari keadaan sesungguhnya yang ia hadapi. Mereka tak tahu balas dendam kecil-kecilan itu menimbulkan efek domino. Hingga akhirnya urusan pencurian itu menyingkap masalah-masalah lain: persaingan, pengkhianatan, pertumpahan darah. 
    Ya, perkiraan Bartimaeus meleset. Ia terlibat dalam petualangan yang panjang, berbahaya, dan menguras energi bersama Nath. 
***

Kisah Amulet Samarkand ini diceritakan dari dua sisi pandang tokoh penting: Bartimaeus dan Nathaniel. Narasi dari sudut pandang pihak pertama, "Aku" dipegang oleh Bartimaeus sendiri. Sedang pada bagian Nathaniel, dinarasikan dari sudut pandang orang ketiga. 

Plot ceritanya mengalir dengan baik. Yang saya sukai dari buku ini selain selera humor Bartimaeus yang penuh sarkasme, adalah bahwa pengarangnya selalu menggiring kita ke arah cerita yang tidak terduga. 

Yang menarik dari buku ini adalah, pada bagian Bartimaeus, kita akan menemukan catatan kaki. Hanya pada bagian Bartimaeus saja. Menariknya, penggunaan catatan kaki ini bukan berfungsi sebagai rujukan fakta ilmiah, melainkan keterangan ataupun komentar pribadi Bartimaeus. Ya, Bartimaeus memang benar-benar bawel :).

Namun, memang pada Bartimaeus-lah pengarang meletakkan daya tarik utama trilogi ini. Karakternya yang banyak omong dan selera humor yang pedas menimbulkan daya tarik sendiri bagi para pembacanya. Tak ada protagonis yang tabah dan baik hati; semua karakter di sini unik. 

Empat bintang untuk buku ini :)
***


0 komentar:

Poskan Komentar