Senin, 13 Februari 2012

The Golem's Eye: The Bartimaeus Trilogy

Judul: The Golem's Eye
Pengarang: Jonathan Stroud
dialih-bahasakan oleh Poppy Damayanti C.
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: Maret 2010 (Cetakan Keempat)
   Di sebuah bangunan pinggiran kota.
   Kitty, Fred, Stanley yang muncul sekilas pada buku pertama, ternyata merupakan bagian dari kelompok uncommon commoners yang berambisi menentang para penyihir. Masing-masing memiliki bakat tersendiri: kebal terhadap sihir, memiliki penglihatan khusus untuk melihat jin dan sebangsanya, mencium keberadaan benda magis, dan lainnya. Mr. Pennyfeather, pemimpin kelompok itu. Ada juga Mr. Hopkins, yang meski tak memiliki bakat khusus, merupakan informan andal bagi kelompok tersebut.
   Setelah bertahun-tahun berkutat dengan operasi-operasi kecil, akhirnya Resistance memutuskan untuk mengambil langkah besar: menjarah makam pahlawan kota London: Gladstone.
***
  Sementara itu, di pusat kota London.
  Berkat jasanya terkait insiden Amulet Samarkand, Nathaniel sekarang bekerja di pemerintahan. Masternya yang sekarang jauh lebih baik dalam mengajarinya. Sebagai anak yang disebut-sebut berbakat dan kesayangan Perdana Menteri, Nathaniel menjadi pusat perhatian orang banyak. Mencari celah untuk mengkritik atau menjatuhkannya, maksudnya (yah, jangan coba mengharapkan kedamaian di antara dari para penyihir :)). Bersaing dengan Jane Farrar, Nath yang kini menyandang nama John Mandrake terus meroket kariernya. Oleh Menterinya, ia diberi tanggungjawab untuk menangani kelompok pemberontak Resistance.
   Namun semuanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Perusakan demi perusakan terus bertambah. Yang membingungkan; metode kejahatannya begitu sulit dilacak jejaknya. Adakah kemungkinan perusakan ini dilakukan oleh makhluk yang belum pernah ditemukan di London selanjutnya?
   Sedikit dan tidak jelasnya petunjuk-petunjuk yang ada membuat tekanan pada Nath semakin besar. Pekerjaan dan nyawanya terancam sekarang. Di tengah kebuntuannya, ia tak memiliki pilihan lain. Meski sebelumnya ia berjanji tak akan memanggil Bartimaeus lagi, toh pada akhirnya, mau tak mau, ia harus melakukannya juga.
***
     dan...Bartimaeus?
   Tentu saja ia jengkel luar biasa saat tahu siapa yang memanggilnya..kembali. Baru dua tahun delapan bulan, anak itu sudah berani melanggar kesepakatan. Tapi, apa mau dikata? Ia telah diikat dan menjadi budak. Enam minggu, itu perjanjian mereka. Enam minggu melakukan pencarian mengenai bukti-bukti misterius. Bertualang menyisir kota London, hingga ke Praha. Dikejar-kejar prajurit, afrit yang terkurung dalam tengkorak, hingga makhluk misterius yang telah berabad lamanya hilang dari peradaban.
  Emm, yah, dari judul buku rasanya jelas. Golem.

***
Jika dalam buku pertama lebih banyak menceritakan dunia jin dengan dunia penyihir, maka dalam buku ini dikupas bagaimana dunia commoner yang hidup di antara penyihir. Layaknya buku penengah lainnya, dalam buku ini, pengarang membangun titik-titik hubung keseluruhan cerita tanpa mengabaikan cerita inti dari buku kedua ini sendiri. Awesome :).
Bagaimana kabar Bartimaeus? Ia masih sarkas seperti biasa, tapi saya merasa ia lebih lucu dan jauh lebih bersahabat disini--tidak mengomel sesering waktu lalu. Lalu Nath? hm, seperti penyihir di sekelilingnya, makin arogan dan licin. Saya rasa, pengarangnya pun tak mengarahkan pembaca untuk menyukaikarakter Nath :p. correct me if i'm wrong, though.
Bisa dibilang, buku kedua ini jauh lebih memuaskan dibanding buku pertama :) *hmm, can''t wait to read the last book*. Tetap sulit ditebak, plot dari buku ini. Meski ada bagian yang membosankan--deskripsi ruangan Kementrian Luar Negeri yang berlebih--hal itu tak terlalu berarti kok :)

0 komentar:

Poskan Komentar