Jumat, 02 November 2012

If I Stay (Jika Aku Tetap di Sini)

Judul Buku: If I Stay (Jika Aku Tetap di Sini)
Pengarang: Gayle Forman
Alih Bahasa: Poppy D. Chusfani
Tahun Terbit: 2011
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Mia, gadis berusia 17 tahun yang memiliki kehidupan yang nyaris sempurna: keluarga yang keren dan bahagia. Dad dan Mom yang rock abis juga adiknya Teddy, si bocah yang cute banget. Lalu ada Adam, pacar (yang oh my keren banget) yang memujanya.  Juga masa depan cerah bagi bakat musiknya. Lampu hijau baginya untuk masuk Juilliard karena kemampuannya memainkan cello yang luar biasa.

Tapi semuanya terenggut dalam sekejap: kecelakaan lalu lintas saat ia dan keluarganya akan berkunjung ke rumah sahabat ayahnya. Ayah dan Ibunya meninggal seketika. adiknya Teddy segera dilarikan ke rumah sakit yang berlainan dengannya. Ia sendiri koma.

Di saat koma itulah, ruhnya bergentayangan dan ia menyaksikan dengan kepalanya sendiri bagaimana parah keadaan dirinya, sibuknya para dokter dan perawat menangani dirinya, dan Gran, Gramps, Kim, serta Adam menunggui dirinya.

“Tidak apa-apa,” 
“Kalau kau mau pergi. Semua orang ingin kau tinggal. Aku ingin kau tinggal lebih daripada apa pun yang kuinginkan di dunia ini.” Suaranya tersekat emosi. Dia berhenti, berdeham, menarik napas, dan melanjutkan. 
“Tapi itu kemauanku dan aku bisa mengerti mungkin itu bukan kemauanmu. Maka aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku mengerti jika kau pergi. Tidak apa-apa kalau kau harus meninggalkan kami. Tidak apa-apa jika kau ingin berhenti berjuang.” begitu ujar Gramps kepadanya, melepasnya pasrah.

"Tinggallah."
"Tidak ada kata-kata yang layak mewakili apa yang terjadi padamu. Tidak ada sisi baiknya. Tapi masih ada yang baik dalam hidupmu...
Jika kau tinggal, aku akan melakukan apa saja yang kau inginkan. Aku akan berhenti bermain band, pergi bersamamu ke New York. Tapi jika kau ingin aku menghilang, aku juga akan melakukan itu. Aku tadi bicara dengan Liz dan dia berkata mungkin kembali ke kehidupan lamamu akan menyakitkan, bahwa mana mungkin akan lebih mudah bagimu jika menghapus kami dari kehidupanmu. Dan itu akan sangat menyebalkan, tetapi aku akan melakukannya. Aku sanggup kehilangan kau seperti itu asalkan aku tidak perlu kehilangan dirimu hari ini. Aku akan melepaskanmu. Jika kau tetap hidup." 
Lalu Adam memasangkan headphone pada telinga Mia yang masih terbaring koma. Meminta maaf karena yang ia putarkan bukan lagu favorit Mia, tapi itu yang terbaik yang bisa dilakukan Adam. Lalu cello Yo-Yo Ma, cellist favorit Mia, mengalun...
dan sesuatu dalam diri Mia meletup-letup.

Terjebak antara hidup dan mati, antara masa lalu yang indah dan masa depan yang tak pasti, Mia menghadapi satu hari penting ketika ia merenungkan satu-satunya keputusan yang masih dimilikinya--keputusan terpenting yang akan pernah dibuatnya.Meski ide cerita ruh gentayangan terdengar agak konyol, tapi pengarangnya masih dapat merangkai sebuah kisah yang keren. Takarannya pas. Tragis tapi engga overdramatis, indah tapi engga terasa klise. Empat bintang untuk buku ini :)

4 komentar:

Peri Hutan mengatakan...

buku ini lumayan nyesek tapi ak suka banget buku nkeduanya, grupiesnya Adam nih, hehehe

edisty friskanesya mengatakan...

waah aku belom baca nih...tapi meski belum baca where she went juga aku udah suka Adam di sini, hihi

Sabrina Zheng mengatakan...

woo, aku suka banget buku ini :)

edisty friskanesya mengatakan...

bagus yaa bukunya :). makasih sabrina udah mampir ;)

Posting Komentar