Minggu, 15 September 2013

Labirin Rasa

Cinta itu ibarat 
Semakin kamu ingin keluar, semakin jauh kamu bisa tersesat.


Judul Buku: Labirin Rasa
Pengarang: Eka Situmorang-Sir
Penerbit: Wahyumedia
Tahun Terbit: 2013
Jumlah halaman: 394

Kayla Ayu Siringo-ringo. Cewek periang yang cuek dan tingkat kepedeannya di atas rata-rata. Baju berantakan, muka jerawatan, agak gendut, jomblo. hobi pelukan pun sama gunung. Keliling kampus nenteng kresek item yang berisi berbagai macam barangnya. Anomali.

Penat dengan dunia perkuliahan dan grafik IPK-nya yang terjun bebas, Kayla mencari angin segar dengan mengunjungi rumah Yangti-nya di Jogja. Namun pelariannya ini malah menjadi awal mula petualangannya dalam percintaan. Sesuatu yang asing sebelumnya bagi gadis dua puluh satu tahun itu.

Bertemu dengan cogan (cowo ganteng) bermata hijau di kereta, ia berinisiatif mengajaknya berkenalan. Ruben namanya. Berkat ke-overpede-an Kayla, hubungan mereka berlanjut dimana Ruben menjadi tour guide untuk Kayla selama di Jogja. Kayla yang sejak pertama kali bertemu naksir Ruben, perasaannya makin menjadi saat Ruben memperlakukannya dengan hangat. Bahkan sampai merajuk dan mengambil cuti satu semester agar tidak kembali ke Jakarta.
Tapi ternyata, Kayla harus menerima kenyataan pahit. Ruben hanya menjadikannya pengisi kekosongan hatinya saat pacarnya jauh. Saat Veni, pacarnya yang cantik itu kembali, Ruben perlahan menjaga jarak dengan Kayla.

Patah hati, namun waktunya kembali ke Jakarta masih lama. Tak mau berlarut-larut dalam kesedihan, Kayla memutuskan untuk melanjutkan liburannya perjalanannya ke Malang, Bali, Mataram, Makassar. Entah Kayla memang ingin mengusir kegalauannya atau justru membuat pembacanya galau dan mupeng ingin jalan-jalan juga seperti Kayla. Habis detail banget jelasin liburannya. Saya ngiler, huhu.

Selama perjalanannya ke tiga tempat itu, Kayla pasti bertemu dengan seseorang yang kemudian menaruh ketertarikan khusus pada Kayla. 

Yah terlepas dari keganjilan tersebut, menurut saya disinilah bagian yang...saat menelusuri maze, kita sempat salah belok, namun dengan cepat menyadari bahwa kita tersasar. Selain kesasar macam itu, ada juga jenis nyasar yang, kita sudah jalan jauh, ternyata di akhir jalannya buntu dan kita kesulitan berbalik dan mencari jalan keluar.

Seperti hati Kayla yang nyasar sama Ruben. Ya, sepulangnya dari Makassar, Kayla bertemu lagi dengan Ruben. Hati Kayla terperangkap lagi. Lebih dalam. Sampai ketika mereka berpisah, Kayla nekat menyusul Ruben ke kota dimana ia bekerja sekarang.

Medan.

Ada untungnya juga menyandang marga Siringo-ringo. Kayla dapat terbang ke Medan dengan alasan ingin mengetahui lebih jauh tentang leluhurnya. Disana ia diterima dengan baik oleh adik (jauh) ayahnya dan dalam penjagaan pariban*nya, Bang Patar.
*pariban= istilah untuk sepupu yang sangat dianjurkan untuk dinikahi menurut riwayat marga orang Batak.

Selanjutnya, dapat ditebak, Bang Patar--meski agak lama--juga masuk dalam lingkaran cerita cintanya Kayla. Perjalanan cinta Kayla yang ruwet bin mumet ini benar-benar seperti labirin. Nyasar sana-nyasar sini. Tersesat di tembok yang sama beberapa kali.

Bagaimana ceritanya hingga Kayla menemukan jalan keluar dari labirin rasa?
Hmm...ikuti saja petualangannya :p
***

Labirin Rasa. Judul ini direpresentasikan dengan baik oleh pengarangnya, Eka Situmorang-Sir ke dalam sebuah cerita cinta yang unik, mengalir, dan penuh tawa. Sebenarnya banyaknya jumlah tokoh membuat saya kesulitan untuk berkonsentrasi menentukan siapa tokoh utamanya. Tapi mungkin ini satu bentuk perwujudan dari judulnya, "labirin", dimana yang menelusurinya akan tersasar beberapa kali. Baru setelah jalan keluarnya ketemu, kita baru "ngeh" mana jalan yang benar dan salah. Mana tokoh yang membawa Kayla ke jalan buntu dan mana tokoh yang menuntun Kayla keluar dari labirin rasanya.

Ide ceritanya fresh, menganalogikan cinta ibarat labirin rasa. Plus dialog antar tokoh yang enak diikuti dan mengundang tawa, terutama dialog antara Kayla dan Bang Patar. Cowok Batak yang masih kental Bataknya memang lucuuu >.<. Pengarang juga sukses melukiskan latar alam saat Kayla liburan dengan baik. Saking sukses, bikin pembaca yang ingin travelling atau backpakcing macam saya, ngiler berat.

Overall, saya suka sekali dengan ide dan interaksi tokoh-tokoh utamanya. Namun beberapa gangguan teknis seperti typo mengganggu konsentrasi baca. Keep up the good work, mbak Eka :)



Resensi ini disertakan dalam lomba Book Review: Labirin Rasa yang disponsori oleh:

Belom ikutan juga? Ayo ;)

0 komentar:

Poskan Komentar