Sabtu, 24 Agustus 2013

The Tokyo Zodiac Murders

Selang 40 tahun berlalu, namun belum ada seorangpun yang mampu memecahkan kasusnya...

...sementara sang pembunuh terus menanti untuk ditemukan.

Judul Buku: The Tokyo Zodiac Murders
Pengarang: Soji Shimada
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2012


Pada suatu malam bersalju tahun 1936, seorang seniman dipukuli hingga tewas di balik pintu studionya yang terkunci di Tokyo. Polisi menemukan surat wasiat aneh yang memaparkan rencananya untuk menciptakan Azoth—sang wanita sempurna—dari potongan-potongan tubuh para wanita muda kerabatnya. Tak lama sesudah itu, putri tertuanya dibunuh. Lalu putri-putrinya yang lain serta keponakan-keponakan perempuannya tiba-tiba menghilang. Satu per satu mayat mereka yang termutilasi ditemukan, semua dikubur sesuai dengan prinsip astrologis yang diuraikan sang seniman.

Pembantaian misterius itu mengguncang Jepang, menyibukkan pihak berwenang dan para detektif amatir, namun tirai misteri tetap tak terpecahkan selama lebih dari 40 tahun. Lalu pada suatu hari di tahun 1979, sebuah dokumen diserahkan kepada Kiyoshi Mitarai—astrolog, peramal nasib, dan detektif eksentrik. Dengan didampingi Dr. Watson versinya sendiri—ilustrator dan penggemar kisah detektif, Kazumi Ishioka—dia mulai melacak jejak pelaku Pembunuhan Zodiak Tokyo serta pencipta Azoth yang bagaikan lenyap ditelan bumi.

Kisah menarik tentang sulap dan ilusi karya salah satu pencerita misteri terkemuka di Jepang ini disusun seperti tragedi panggung yang megah. Penulis melemparkan tantangan kepada pembaca untuk membongkar misteri sebelum tirai ditutup.
***

No Kidding.

Penulisnya sampai menyela ceritanya dua kali. Pertama saat petunjuk kunci telah diberikan, kedua setelah Kiyoshi mengungkapkan siapa pelakunya, tanpa mengurai metode si pelaku. 



Saat halaman pertama dibuka, kita disuguhi dokumen rencana penciptaan Azoth milik Heikichi Umezawa. Pemikirannya akan wanita sempurna bernama Azoth, membuat pembaca manapun merasakan bahwa ia sudah hilang akal sehat. Saya sendiri merinding. Bagaimana suatu pemahaman atau kepercayaan dapat membawa orang melintasi batas nalar. 
Setelah itu, muncullah Kiyoshi dan Kazumi. Mereka berinteraksi dan dari obrolan merekalah kita mendapatkan petunjuk. Yah, bagi saya pemaparan seperti ini jauh lebih mengasyikkan daripada cerita-cerita detektif yang sudah-sudah.  
Seperti juga yang dikatakan di belakang cover buku, Kazumi Ishioka adalah Dr. Watson versi Kiyoshi. Wataknya yang polos namun juga begitu peduli pada partnernya, Kiyoshi, mengingatkan saya pada sosok Dr. Watson. Di samping itu pula, Kazumi seringkali menjadi korban atas ulah Kiyoshi. Benar-benar seperti Dr. Watson :)) Btw, saya sempat mengira Kazumi itu wanita sampai pertengahan cerita, lho..

Yah, sinopsis di cover belakang sudah menyampaikan gambaran dengan tepat, jadi apalagi yang harus saya tambahkan? Buku ini bikin kita mikir meski ngga mumet. Nice :)






0 komentar:

Poskan Komentar