Sabtu, 10 Agustus 2013

Please Look After Mom



"Setelah dia hilang, barulah keberadaanya terasa begitu nyata, 
seolah-olah kau tinggal mengulurkan tangan untuk menyentuhnya."

You will never think of your mother the same way again after you read this book.

Judul: Please Look After Mom
Pengarang: Kyung Sook Shin
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2011
Ibu hilang.
Ia tertinggal di Stasiun Kereta Bawah Tanah Seoul. Saat itu Ayah dan Ibu datang dari Chongup, bermaksud melihat rumah baru anaknya yang ketiga. Saat berkunjung, biasanya anak-anaknyalah yang akan menjemput. Namun saat itu tak ada yang bisa menjemput mereka.
Ayah bilang mereka tak usah dijemput, menyanggupi mendatangi sendiri ke rumah anaknya. Namun saat kereta berjalan, ternyata hanya Ayah yang naik. Ibu tertinggal di stasiun bawah tanah.

Seminggu, dua minggu, sebulan...

Ibu tak kunjung ditemukan. Sulit mencari ibu, karena kami, suami dan anak-anaknya tahu ia tak dapat kemana-mana sendiri di kota ini, di Seoul. Semua saling menyalahkan, juga menyesali diri sendiri. Saat ibu ada, kehadirannya seringkali tak terasa. Seringkali terlupakan, terabaikan. Namun saat ia hilang, seluruh memori tentangnya membuncah. Kenangan-kenangan sendu terus mendera silih berganti. Kebaikan dan pengorbanan-pengorbanannya yang belum terbalaskan. 

"Setelah dia hilang, barulah keberadaanya terasa begitu nyata, seolah-olah kau tinggal mengulurkan tangan untuk menyentuhnya"

Please Look After Mom.

Jujur saya tertohok sekali dengan novel ini. Sifat dan kenangan antara ibu dan anak mungkin sekali berbeda-beda, tapi saya yakin, di belahan dunia manapun ketulusan semua ibu terhadap anaknya, pastilah sama. Kecuali yang mengalami gangguan jiwa. 
***
Kadang mereka bisa bersikap begitu keras, namun kita jarang ambil peduli ada sesuatu yang lebih besar di baliknya, yang mendorong mereka harus bersikap seperti itu.

Seperti saat ibu mengamuk saat Chi-hon terancam tidak akan melanjutkan ke jenjang SMP. Ia marah-marah pada Ayah yang sedang sakit di tempat tidur. Ia melemparkan meja pendek ke pekarangan, mengacak-acak jemuran.
"Kita tidak punya apa-apa, jadi bagaimana anak itu bisa bertahan hidup di dunia ini kalau kita tidak menyekolahkannya?"
Padahal Chi-hon sendiri belum mengerti apa artinya jika ia tak melanjutkan ke SMP. Ketika itu ia sendiri tidak berkeberatan jika tidak lanjut ke SMP. Lalu keesokan harinya, Ibu membawamu ke sekolah dan berbicara pada guru. Chi hon dapat melanjutkan pendidikannya. Hari itu, cincin emas satu-satunya milik Ibu tak ada lagi.

Seperti saat Ibu memukul betis Hyong chol karena ia tak mau memakan makanan dari simpanan Ayahnya yang waktu itu berada di rumah. Waktu itu Ibu kabur dari rumah karena tak mau bertemu Ayah juga simpanannya. Padahal saat Ibu kabur, yang bisa menyediakan makanan saat itu hanya simpanan Ayahnya saja. Hyong chol yang juga merasakan sakit hati ibu, tak sudi menyentuh makanan di rumah. Namun ternyata ibu lebih sedih karena Hyong chol tak mau makan, ketimbang sedih karena Hyong Chol mau makan dari perempuan itu.
"Kenapa kau tidak mau makan? Apa kaupikir aku akan senang kalau kau tidak mau makan?"
Hyong Chol berkeras hati. Ibu memukul betis Hyong chol berulang kali dengan ranting, saking meluap emosinya, bahkan sampai betis Hyong Chol mulai mengeluarkan darah.
"Ya Tuhan! dasar anak nakal! Hyong Chol!" Ibu memeluknya
"Hyong Chol mesti makan, siapapun yang memasak makanan itu. Ibu tak akan terlalu sedih kalau Hyong Chol mau makan."
 ***
Jarang di antara kita yang menyadari bahwa seorang ibu pun seorang individu. wanita. bertumbuh. memiliki perasaannya sendiri. Namun ia rela mengorbankan dirinya sendiri. Apa yang ia tak sukai, apa yang sebenarnya ia impikan untuk dirinya sendiri, demi menjalankan peran seorang ibu. 

"Apa ibu senang berada di dapur?"

"Pertanyaan macam apa itu? Kalau kau hanya melakukan apa-apa yang kau sukai, lalu siapa yang akan mengerjakan apa-apa yang tidak kau sukai?

Bukan masalah senang atau tidak senang. Aku memasak karena sudah seharusnya. Aku mesti ke dapur supaya kalian semua bisa makan dan pergi ke sekolah. Mana bisa kita hanya melakukan apa yang kita sukai? Ada hal-hal yang mesti dilakukan, entah suka atau tidak."

"Kalau dapur sudah seperti penjara, aku keluar ke belakang dan mengambil tutup stoples yang paling jelek, lalu kulemparkan sekeras mungkin ke tembok.....Bunyi tutup yang pecah itu ibarat obat yang manjur buatku. Aku merasa bebas." bisiknya kemudian, seolah ini adalah rahasia terdalamnya.

Meski begitu, ia tidak pernah merasa kesal ataupun menyalahkan keadaan.

"Tapi aku bahagia waktu kalian, anak-anak, semakin dewasa....Kalian semua makan banyak sekali waktu sedang tumbuh....Aku hanya merasa senang karena semua makanan itu mengenyangkan anak-anakku."

Seorang Ibu akan melakukan apapun demi anaknya. Meski itu adalah sesuatu yang belum pernah ia lakukan selama hidupnya. Meski ada ketakutan yang ia rasakan, ia akan lebih khawatir lagi jika keperluan anaknya tidak terpenuhi.

Seperti saat Hyong Chol pertama kali merantau dan minta diantarkan ijazah, saat itu hanya ada Ibu di rumah. Maka untuk pertama kalinya Ibu naik kereta, dan karena tak tahu jalan, ia minta diantar ioleh orang yang tak dikenal ke tempat anaknya berada. Ya Tuhan, orang tak dikenal di kota seperti Seoul bisa saja amat berbahaya. Tapi Ibu melakukannya juga, demi Hyong Chol.
"Kau anak pertamaku. Ini bukan pertama kalinya kau membuatku melakukan hal-hal yang sebelumnya tak pernah kulakukan. Semua yang kaulakukan membukakan dunia baru buatku..."

***
(Kepada tokoh Ayah)
Kaupikir kau tidak terlalu mencintai istrimu, sebab kau baru satu kali melihatnya, sebelum menikah dengannya. Tetapi setiap kali kau pergi dari rumah, beberapa waktu berlalu dan dia muncul kembali dalam ingatanmu. Sepasang tangan istrimu bisa memelihara kehidupan....Bakatnya ini sedemikian besar, sehingga saudara perempuanmu yang selalu saja mencela istrimu, suka mengatakan kurang ini kurang itu, bahkan dia pun meminta tolong pada istrimu untuk menyebar benih di ladang dan menyemai bibit-bibit cabai.

Ayah termangu sambil memandangi belacu, sarung-sarung tangan dan kaki yang telah disiapkan Ibu jika mereka meninggal nanti.
"Kaubilang kau akan menguburkan aku dulu, baru kau pergi..." Pikirnya melayang pada istrinya yang belum kunjung ditemukan.

"Setelah dia hilang, barulah keberadaanya terasa begitu nyata, seolah-olah kau tinggal mengulurkan tangan untuk menyentuhnya"
***

Masih banyak lagi sisi yang membawa kita pada kesadaran bahwa, banyak sekali sisi seorang ibu yang luput dari perhatian kita. Isi buku ini, lebih dari apa yang saya bicarakan di sini. Buku ini, masih sangat banyak hal yang disampaikannya pada pembaca. Bikin mbrebes mili kata orang Jawa.

***
Dilihat dari segi teknik penulisannya
Saya agak asing dengan gaya penceritaan sudut pandang orang kedua. Untunglah sudut pandang ini dipakai sejak awal cerita hingga kita bisa menyesuaikan diri di bab-bab selanjutnya. Buku ini terdiri dari lima bab:
-Tak Ada yang Tahu, menceritakan sisi Chi-hon dengan sudut pandang orang kedua/ penggunaan kata Kau untuk menggambarkan Chi hon.
-Maafkan ibu, Hyong Chol,menceritakan sisi Hyong Chol dengan sudut pandang orang ketiga/ penggunaan kata Dia untuk menggambarkan Hyong Chol.
-Aku Pulang, menceritakan sisi Ayah,dengan sudut pandang orang kedua
-Perempuan Lain, meceritakan sisi ibu dan anak bungsu yang tak disebutkan namanya
-Epilog, kembali pada Chi hon.

Jadi, memang ngga boleh sambil ngelamun kalo baca buku ini :)

Saya kagum sekali dengan cara penulis membangun karakter tokohnya. Saya bisa lihat semua tokoh disini terasa ...manusiawi. Bahkan saya tak tega mengata-ngatai tokoh Ayah yang bisa-bisanya pernah punya perempuan lain. Di lain pihak, ternyata Ibu punya cela tersendiri yang ia kubur sendirian. Tapi sebagai pembaca saya bisa maklum. Rasanya...yah, manusiawi sekali.
Buku ini padat, penuh amunisi. Dari awal sampe akhir rasanya seperti terkena anak panah terus-terusan. Jleb jleb jleb, tertohok sama cerita yang bisa nyindir siapapun yang berstatus anak.

Cerita saya sebanyak ini, tetap bukan spoiler ceritanya lho :p

4 of 5. mungkin kalo saya orang Korea saya kasih 5 karena ga ada keterbatasan baca terjemahan.



0 komentar:

Poskan Komentar