Senin, 12 Agustus 2013

Infinitely Yours

Jingga
Gadis hiperaktif. Usia 25 kelakuan 16 tahun. Ikut tour ke Korea (lagi) karena ingin bertemu dengan pangeran kuda putihnya yang tak lain tour guidenya tahun lalu, Yun Jae.

Rayan
Narayan Sadewa. Eksmud serius dan rapi. Bergegas ke Seoul mencari gadis yang secara sepihak memutuskan hubungan 10 tahun setelah LDR Jakarta-Seoul. Terjebak di tour karena seorang oknum. Yah, itu temannya sendiri. Sebut saja Alif, nama sebenarnya.

Ini cerita tentang Jingga dan Rayan. Dengan dua sifat yang saling berseberangan. Dipertemukan takdirkah?

Judul Buku: Infinitely Yours
Pengarang: Orizuka
Penerbit: Gagas Media
Tahun terbit: 2011
Orang bilang, pertemuan pertama selalu kebetulan. Tapi, bagaimana caramu menjelaskan pertemuan-pertemuan kita selanjutnya? Apakah Tuhan campur tangan di dalamnya?Kita bukanlah dua garis yang tak sengaja bertabrakan. Sekeras apa pun usaha kita berdua, saling menjauhkan diri—dan menjauhkan hati—pada akhirnya akan bertemu kembali.Kau tak percaya takdir, aku pun tidak. Karenanya, hanya ada satu cara untuk membuktikannya....Kau, aku, dan perjalanan ini.

***Preview***

Pertemuan pertama mereka, tidak terlalu menyenangkan. Rayan menabrak Jingga di jalan hingga PSP-nya jatuh dan terlindas. Rayan janji akan menggantinya seminggu lagi karena ia akan melakukan perjalanan ke luar negeri.
Tapi ternyata tak perlu menunggu, karena Rayan dan Jingga rupanya berada dalam satu tour yang sama.
Sepertinya Jingga yang sial ya? Namun mulai pertemuan kedua ini, situasinya berbalik. Rayan yang ketimpa sial terus J. Dengan sifat yang bertolak belakang, bagaimana mereka menghabiskan waktu seminggu dengan menjadi partner group selama tour?

“Kita terlalu mirip, Kak. Seperti medan magnet, kutub yang identik akan saling menolak satu sama lain.”

Teori magnet yang dikatakan mantannya itu berdentum-dentum di kepala Rayan.
Menyuruh dirinya mencoba membuka hati pada Jingga?

Jika mengikuti teori Mariska, Rayan harusnya bisa bersatu dengan gadis berisik ini. Namun, alih-alih ‘bersatu’, Rayan merasa gadis itulah yang menempel kepadanya. Menabrak garisnya. Sekeras apa pun usaha Rayan melepaskan diri, rasanya mustahil melepas tokek yang sudah telanjur menempel di kulit, atau mengurai benang yang telanjur kusut.

-baca kelanjutannya hanya di Infinitely Yours ;)-

***Sebatas Komen***

Waktu saya baca buku ini sih saya asik aja ngikutin alur cerita sampai ngga sempat memperhatikan detail lain. Baru setelah saya baca-baca review orang lain, saya nyadar kalo:
  •       Playlist yang dipajang di awal cerita adalah DAFTAR ISI, Satu judul lagu jadi satu judul bab. Kebiasaan banget deh saya yang nganggep judul bab itu angin lalu :p
  •       Judul bukunya refers to tagline promosi Seoul: Infinitely Yours, SEOUL. Duh, padahal saya suka sama lagu SEOUL-nya Suju & SNSD itu. Udah pernah liat beberapa iklannya juga.


S.E.O.U.L hamkke wechyeobwayo eodiseonrado useul su ittneun
Haengbok moduga hanadweneun sesang mandeureoyo~~
      Tapi karena jeda antara liat iklan dan baca buku ini lama, mungkin saya lupa. 
      Beda dengan teman-teman yang membaca buku ini saat buku dan iklan SEOUL lagi in :)
  • Jalan cerita mirip Hello Strangers. Terus baru inget ternyata perasaan familier scene gembok cinta itu karena saya liat film HS itu. Ceweknya juga sama-sama terobsesi sama Winter Sonata. Mereka juga sama-sama maen salju. Sedang scene bermalam di gunung dan dikira tuan rumahnya suami istri itu umum banget deh di drama-drama Korea.

  
Di halaman 43 ada kalimat seperti ini:
“Neon jaemi eopseo manneo epseo, run devil devil run run!!” Jingga bergaya seperti mengusir Rayan.
Ini yang dinyanyikan Jingga dan supir taksinya dengan asyik, tapi yang ada di pikiran saya justru: Eh ini sih liriknya cocok buat Jingga. Jingga baik sih, tapi sifat ga pekanya ituu...sifat oportunisnya yang keterlaluan itu.... Kau tak asik, kau tak punya manner, run devil devil run run! :p

Iyaa.. ada hal-hal yang bikin saya ngga habis pikir sama Jingga ini. Iya sih, saya tahu ada tipe-tipe orang yang aneh seperti ini, bahkan di dunia nyata. Tapi tetep ajaah~
  • Bagian dia ikut campur urusan orang terus menganggap dia membantu padahal buat orang yang dibantuin dia cuma ngerecokin.
  • Bagian dia suka memanfaatkan situasi yang bikin Rayan harus ngeluarin duit banyak. (Ganti PSP rusak dengan harga lebih, dan bayarin kamar hotel Jingga karena Jingga ngehasut resepsionisnya). Kan kasian Rayan :|
  • Waktu Jingga ditembak Yun Jae dan Rayan salah paham, kenapa Jingga malah ngedeketin Rayan duluan dan bukannya ngejawab perasaan Yun Jae dulu. Maksudnya mau ngurai benang kusut tapi ngga dari ujung gitu, jadinya malah tambah runyem.
  • Nawarin manggil Rayan “Oppa” saat baru kenal. Emm...dihadapkan pada situasi seorang cewek yang baru kenal manggil “Oppa” pada seseorang itu.... Mbak, keganjenan? Cewek Korea manggil “Oppa” lebih ke cowok yang dia suka/deket sama dia kan. Jadi, mau se-sok-Korea apapun, selama kita orang Indonesia, selama emang baru kenalan, kenapa nggak manggil Kak aja. Toh Jingga manggil Pak Darma juga tetep pake “Pak” kan..

Yah, selain keanehan pada Jingga, ada juga keanehan lain pada novel ini. Atas kuasa penulis, Rayan dan Yun Jae jatuh hati sama Jingga ini. Oh God Why...kasian mereka #eh.

Kesannya saya anti sama Jingga yak, hahaha :P

Tapi toh saya terpikat sama buku ini juga karena karakter Jingga yang annoying sekali. Rasanya ingin terus ngamatin kehebohan-kehebohan yang terjadi selanjutnya karena Rayan ditempelin terus sama Jingga. Syukurlah saya ngga menyesal baca buku ini. Endingnya bikin ketawa:
"Seharusnya, Rayan merasa ini sebuah keberuntungan, tapi sekarang ia tidak tahu lagiSekarang, Rayan hanya bisa berharap, ia diberikan kesabaran lebih oleh Tuhan untuk menghadapi hari-hari berikutnya.”  --karena Jingga, of course :p

Pertanyaan terakhir: Saat PSP Jingga rusak, Rayan mau ganti rugi. Apa saat iPad Rayan rusak, Jingga bakalan gantiin?

Well I guess not. Jingga pasti melas-melas dan Rayan ngga segitu tega buat maksa Jingga ganti rugi.

Kan, kasian Rayan :))

4 of 5, atas penulis yang bahas kepribadian berdasar golongan darah dan penderitaan Rayan



0 komentar:

Poskan Komentar