Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Februari 2014

Pulang - I Know Who You Are, My Secret Santa :p

Judul: Pulang
Pengarang: Leila S. Chudori
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun Terbit: Februari 2013, Cetakan ketiga

Paris, Mei 1968. 

Ketika revolusi mahasiswa berkecamuk di Paris, Dimas Suryo seorang eksil politik Indonesia bertemu Vivienne Deveraux, seorang mahasiswa Prancis yang ikut demonstrasi melawan pemerintah Prancis. Pada saat yang sama, Dimas menerima kabar dari Jakarta: Hananto Prawiro, sahabatnya, ditangkap tentara dan dinyatakan tewas. Dimas merasa cemas dan gamang. Bersama puluhan wartawan dan seniman lain, dia tak bisa kembali ke Jakarta karena paspornya dicabut oleh pemerintah Indonesia. Sejak itu mereka mengelana tanpa status yang jelas dari Santiago ke Havana, ke Peking dan akhirnya mendarat di tanah Eropa untuk mendapatkan suaka dan menetap di sana.

Di tengah kesibukan mengelola Restoran Tanah Air di Paris bersama tiga kawannya: Nug, Tjai, dan Risjaf—mereka berempat disebut Empat Pilar Tanah Air—Dimas, terus-menerus dikejar rasa bersalah karena kawan-kawannya di Indonesia satu persatu tumbang, dikejar, ditembak, atau menghilang begitu saja dalam perburuan Peristiwa 30 September. Apalagi dia tak bisa melupakan Surti Anandari—isteri Hananto—yang bersama ketiga anaknya berbulan-bulan diinterogasi tentara.

Jakarta, Mei 1998
Lintang Utara, puteri Dimas dari perkawinan dengan Vivienne Deveraux, akhirnya berhasil memperoleh visa masuk Indonesia untuk merekam pengalaman keluarga korban tragedi 30 September sebagai tugas akhir kuliahnya. Apa yang terkuak oleh Lintang bukan sekedar masa lalu ayahnya dengan Surti Anandari, tetapi juga bagaimana sejarah paling berdarah di negerinya mempunyai kaitan dengan Ayah dan kawan-kawan ayahnya. Bersama Segara Alam, putera Hananto, Lintang menjadi saksi mata apa yang kemudian menjadi kerusuhan terbesar dalam sejarah Indonesia: kerusuhan Mei 1998 dan jatuhnya Presiden Indonesia yang sudah berkuasa selama 32 tahun.

***
Kadang suka kehabisan nafas saat membaca buku ini. Saking terhanyut mengikuti arus jalinan kata yang keren dari Leila S. Chudori ini, tahu-tahu saya sadar kalau saya lupa bernafas >.<. Terlepas dari beberapa adegan dewasa (again, saya sudah 23 tahun dan tetap risih kalau mergokin adegan 21+), Pulang menawarkan tema yang unik, tidak murahan. Pulang, buku bermuatan politik pertama yang saya rasakan ngga berat. Iyalah, novel, hehe. Dalam artian, butuh kepiawaian khusus meramu tema politik dengan  latar, referensi, alur, dan tokoh sehingga bisa menjadi kisah yang enak untuk dibaca. dan Pulangnya Leila S. Chudori bukan cuma sekedar "enak" ;)
***


tebak-tebakann

Jadi, mari kita ulang lagi riddle dari Secret Santa saya:

jangan cari petunjuk ini di google karena Santa buat sendiri
Santa suka baca berbagai jenis genre buku
Buku favorit Santa ada di Goodreads tapi tidak ada di blog
Makhluk mitologi favorit Santa adalah peri, tapi Santa bukan peri hutan
Santa bukan....(duh aku lupa. tapi intinya bukan penggila fantasi. ya toh?)
TBT & THG adalah favorit Santa

Dear, my secret santa. tahu apa yang saya lakukan?
saya telusuri satu-satu semua peserta di note  Secret Santa 2013
lalu....mencari siapapun yang memiliki TBT dan THG sekaligus di list favoritnya

betewe sebenarnya saya agak ngga ngeh TBT dan THG itu apa. Kurang gaul ya :(
bermodalkan intuisi, semoga aja TBT itu The Book Thief dan THG itu The Hunger Games 
(Aamiin ya Allah...)
dan terdapat beberapa kandidat, xoxo
(iya. kak Sulis langsung dicoretlah pasti. SSnya bilang dia bukan peri hutan :) )
namun setelah melakukan penelitian mendalam...
Pilihan saya jatuh kepada....
*jeng jeng jeng*

Ndari


kenapa? karena Ndari satu-satunya yang punya TBT dan THG di list favoritnya (yang disamarkan dalam shelf always-on-my-mind), tapi tak ada TBT dan THG di blognya.


semoga benar yak.

(dan maafkan saya yang menulis postingan ini seadanya. Udah mepet deadline, riddlenya ga lengkap pula. Riddlenya tertinggal di rumah sedang saya masih di sini, di perantauan.)


Senin, 13 Agustus 2012

Sewindu Dekat Bung Karno


Judul: Sewindu Dekat Bung Karno
Penulis: Bambang Widjanarko
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: 2010

Bung Karno (BK) sebagai proklamator, sebagai tokoh politik nasional dan internasional telah banyak ditulis orang. Dalam pelajaran sejarah, kita telah mempelajari sepak terjang BK dalam memperjuangkan kemerdekaan dan mempertahankan persatuan bangsa Indonesia. Namun BK sebagai manusia biasa, tak banyak yang tahu.
Bambang Widjanarko adalah seorang dari yang sedikit itu. Satu windu mendampingi BK sebagai ajudannya yang loyal, banyak sisi-sisi manusiawi BK yang terkuak dalam buku ini. Bagaimana BK harus pandai bermain kucing-kucingan demi menjaga perasaan para istrinya yang menuntut perhatian yang sama. Bagaimana BK dapat merasa kesepian meski selalu dikelilingi oleh banyak orang. Bagaimana BK dapat dengan bijak memaafkan kesalahan bawahan, di lain pihak ia dapat meledak saat diremehkan. Bahkan pernah pula ia menangis tersedu. 
Berbagai frame-frame kenangan akan Bung Karno, diceritakan oleh Bambang Widjanarko dengan simpel, ringan, namun memikat. Ada rasa lucu, bangga, juga haru saat membaca buku ini. Juga air mata saat saya membaca penggalan akhir buku ini, saat beliau begitu terpukul menerima putusan digantinya BK dari jabatan presiden. Setelah lama duduk diam tanapa sepatah katapun, ia berkata: "Aku telah berusaha memberikan segala sesuatu yang kuanggap baik bagi nusa dan bangsa Indonesia."
Satu yang saya kagumi, betapa sederhana terpancar jelas dari kepribadiannya. Sekelumit pesan BK  mengenai keinginannya dalam peristirahatan terakhir: 
"Aku ingin beristirahat di antara bukit yang berombak-ombak dan dalam ketenangan. Hanya dalam keindahan dari tanah airku yang tercinta dan dalam kesederhanaan dari mana aku berasal.
Apabila aku telah mencapai sesuatu selama di atas dunia ini adalah karena rakyatku. Tanpa rakyat aku tidak berarti apa-apa. Kalau aku mati, kuburkanlah menurut agama Islam, di bawah pohon yang rindang, dan di atas batu kecil yang biasa sekali engkau tuliskan kata sederhana: DI SINI BERISTIRAHAT BUNG KARNO, PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA."
Bintang empat untuk buku ini. Andai saja buku ini lebih tebal, lebih banyak lagi kisah yang diceritakan, mungkin saya akan nyandu buku ini dan memberikan lima bintang tanpa ragu :)