Tampilkan postingan dengan label non-fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label non-fiksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Agustus 2012

Sewindu Dekat Bung Karno


Judul: Sewindu Dekat Bung Karno
Penulis: Bambang Widjanarko
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: 2010

Bung Karno (BK) sebagai proklamator, sebagai tokoh politik nasional dan internasional telah banyak ditulis orang. Dalam pelajaran sejarah, kita telah mempelajari sepak terjang BK dalam memperjuangkan kemerdekaan dan mempertahankan persatuan bangsa Indonesia. Namun BK sebagai manusia biasa, tak banyak yang tahu.
Bambang Widjanarko adalah seorang dari yang sedikit itu. Satu windu mendampingi BK sebagai ajudannya yang loyal, banyak sisi-sisi manusiawi BK yang terkuak dalam buku ini. Bagaimana BK harus pandai bermain kucing-kucingan demi menjaga perasaan para istrinya yang menuntut perhatian yang sama. Bagaimana BK dapat merasa kesepian meski selalu dikelilingi oleh banyak orang. Bagaimana BK dapat dengan bijak memaafkan kesalahan bawahan, di lain pihak ia dapat meledak saat diremehkan. Bahkan pernah pula ia menangis tersedu. 
Berbagai frame-frame kenangan akan Bung Karno, diceritakan oleh Bambang Widjanarko dengan simpel, ringan, namun memikat. Ada rasa lucu, bangga, juga haru saat membaca buku ini. Juga air mata saat saya membaca penggalan akhir buku ini, saat beliau begitu terpukul menerima putusan digantinya BK dari jabatan presiden. Setelah lama duduk diam tanapa sepatah katapun, ia berkata: "Aku telah berusaha memberikan segala sesuatu yang kuanggap baik bagi nusa dan bangsa Indonesia."
Satu yang saya kagumi, betapa sederhana terpancar jelas dari kepribadiannya. Sekelumit pesan BK  mengenai keinginannya dalam peristirahatan terakhir: 
"Aku ingin beristirahat di antara bukit yang berombak-ombak dan dalam ketenangan. Hanya dalam keindahan dari tanah airku yang tercinta dan dalam kesederhanaan dari mana aku berasal.
Apabila aku telah mencapai sesuatu selama di atas dunia ini adalah karena rakyatku. Tanpa rakyat aku tidak berarti apa-apa. Kalau aku mati, kuburkanlah menurut agama Islam, di bawah pohon yang rindang, dan di atas batu kecil yang biasa sekali engkau tuliskan kata sederhana: DI SINI BERISTIRAHAT BUNG KARNO, PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA."
Bintang empat untuk buku ini. Andai saja buku ini lebih tebal, lebih banyak lagi kisah yang diceritakan, mungkin saya akan nyandu buku ini dan memberikan lima bintang tanpa ragu :)

Sabtu, 23 Juni 2012

Blink!

Judul Buku: Blink * Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: November 2009 (Cetakan kesembilan)


Blink : it's all about snap judgement and thin slicing. Seringkali keputusan-keputusan besar yang kita buat dalam sepanjang usia kita, sebenarnya hanya ditentukan oleh dua detik pertama saat kita mengamati sesuatu. Blink! Dan pertimbangan-pertimbangan yang kita lakukan selanjutnya ditentukan oleh dua detik pertama tersebut. Dia yang menentukan arah keputusan mana yang kita ambil pada akhirnya.
Yang perlu diwaspadai adalah; dua detik pertama ini dapat membawa kita pada putusan yang tepat, atau bahkan menyesatkan kita. Seorang pakar benda mampu mengenali barang antik palsu dalam sekali lihat; di lain pihak, polisi bisa saja menembak mati seorang yang tak bersalah. Semuanya tergantung dari apa yang tertanam dalam pikiran alam bawah sadar kita. Seringkali dua detik pertama anda akan menyesatkan, dikarenakan faktor generalisasi seperti: orang berkulit hitam adalah penjahat, lelaki biasanya bekerja dan wanita di rumah, dan sebagainya. Blink yang murni, yang membawa kita pada penilaian yang benar, dapat diperoleh jika kita membiasakan diri untuk seobjektif mungkin dalam menilai setiap hal.



Well itu kira-kira yang bisa saya rangkum untuk teman-teman :)

Rabu, 23 Mei 2012

Three Cups of Tea




Judul Buku: Three Cups of Tea
Penerbit: Hikmah
Tahun Terbit: 2008
Penulis: Greg Mortenson dan David Oliver Relin

Setelah gagal memenuhi ambisinya mencapai puncak K2, Mortenson terseok-seok menuruni lereng gunung. Dalam keadaan kehabisan perbekalan dan sakit, dia berharap tiba di Askole secepatnya untuk memperoleh yang ia perlukan. Namun alih-alih sampai di Askole, Mortenson ambruk di depan gerbang desa Korphe.
“… (Di Pakistan dan Afghanistan), kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis; pada cangkir pertama engkau masih orang asing; cangkir kedua, engkau teman; dan pada cangkir ketiga, engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap untuk berbuat apa pun—bahkan untuk mati.”
Demikian ucap Haji Ali, Kepala Desa Korphe. Kehangatan seperti inilah yang diberikan oleh suku Balti, suku yang hidup di daerah terpencil, jauh tersembunyi di kaki gunung K2 kepada George Mortenson. Disana ia dirawat dengan baik oleh penduduk desa. Maka ketika dia menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak Korphe bersekolah: duduk melingkar, berlutut di tanah yang membeku, dalam udara dingin, tertib mengerjakan tugasnya, jantungnya serasa tercerabut.
“Aku akan membangun sebuah sekolah untuk desa ini. Aku berjanji.”
Maka dimulailah perjalanan seorang George Mortenson. Dari awalnya satu sekolah berdiri demi terpenuhi janji pada penduduk Korphe, lalu bertambah lagi lima puluh buah sekolah dalam satu dekade di daerah tempat lahirnya Taliban itu.
Kisah ini bukan sekedar jalan lurus saja. Banyak rintangan dan masalah yang dihadapi Mortenson. Namun begitu, ia tetap tak patah arang. Tak peduli meski ia tak punya uang bahkan untuk menghidupi dirinya sendiri; meski sempat tertawan saat konflik; meski berbeda latar suku, budaya, dan agamanya. Semua itu tak menghalanginya untuk mewujudkan kepeduliannya pada anak-anak di Pakistan dan Afghanistan agar mereka mendapat pendidikan yang layak. Maka Mortenson patut dijadikan inspirasi bagi kita mengenai kepedulian terhadap sesama manusia :).


Membaca buku ini, rasanya benar-benar mengikuti langkah Mortenson satu per satu dalam perjalanan panjangnya. Butuh total waktu dua setengah bulan untuk merampungkan buku ini. Saya katakan, buku ini benar-benar kaya akan inspirasi dan nilai-nilai mulia. Sayangnya, buku ini tidak dibuka dengan manis oleh penulisnya, sehingga banyak pembaca lain yang lelah di awal. Begitupun yang saya alami. Bagian awal buku ini, alur campuran yang digunakan terasa acak dan belepotan sehingga sulit dicerna. Selain itu juga, kadang-kadang saya menemukan kalimat-kalimat yang strukturnya menggantung. Namun karena kisahnya sendiri terlampau  luar biasa, saya beri empat bintang untuk buku ini. Lima bintang untuk kisah Mortenson dan minus satu untuk cara penulisan bukunya :).

Jumat, 03 Februari 2012

Life Traveler


Life Traveler: Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan
Penulis: Windy Ariestanty
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2011

...because travelers never thinks that they are foreigners.

Selasa, 24 Januari 2012

99 Cahaya di Langit Eropa


Judul Buku: 99 Cahaya di Langit Eropa
Penulis: Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: 2011