Senin, 01 Oktober 2012

Sunset Bersama Rosie




Judul: Sunset bersama Rosie
Pengarang: Tere Liye
Penerbit: Mahaka Publishing
Tahun Terbit: 2011

Selamat Pagi.
Aku tahu, saat membaca cerita ini, di tempat kalian mungkin sedang siang, sore, atau boleh jadi malah malam hari. Di tempatku ketika memulai cerita ini juga sebenarnya sedang senja, pukul 17:00. Matahari tengah beranjak tenggelam di kaki cakrawala, sayangnya tak nampak keindahannya karena terhalang gedung-gedung tinggi. Hanya semburat kemerahan yang berpadu dengan cokelatnya langit kota terlihat memantul dari kaca-kaca raksasa, lempengan logam, dan tiang beton pencakar langit.
Selamat Pagi.
Bagiku waktu selalu pagi. Di antara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh Di kaki pegunungan. Pagi, berarti satu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan telah terlewati lagi; malam-malam yang panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan, Dan helaan nafas tertahan.
Namaku Tegar Karang. Sukses berkarir di perusahaan sekuritas ternama, memiliki calon tunangan yang cantik, dan berdamai dengan masa laluku yang pahit: cinta pertamaku selama dua puluh tahun, Rosie, menikah dengan sahabat terbaikku, Nathan. Ya, aku telah berdamai, maka kenangan itu tidak lagi pahit rasanya. Kini aku dekat dengan mereka, menjadi Om terhebat, terkeren, tersuper bagi keempat kuntum bunga mereka: Anggrek, Sakura, Jasmine, dan Lili.
Setiap tahunpun, aku diajak mereka turut merayakan ulang tahun perkawinan mereka. Seperti kini. Sehari sebelum hari pertunangan aku dan Sekar. Sungguh kehidupan yang sempurna, bukan?
Ya, sebelum bom itu meledak, meluluh-lantakkan semua, memutar balikkan semuanya...


***

Kali pertama saya melihat buku ini, mengundang kegalauan karena saya harus memilih antara buku ini dengan Rembulan Tenggelam Di Wajahmu. Setelah mematung hampir tiga puluh menit menimbang-nimbang, akhirnya saya putuskan untuk membeli RTDW. Yah, ternyata saya tidak terlalu puas karena 'terlalu jauh'. Rasa tidak puas ini yang kemudian terobati setelah membaca buku ini. 
Sunset bersama Rosie. Mengajarkan kita akan penerimaan, tentang keikhlasan akan hilangnya kesempatan. Khasnya Tere Liye, kita juga akan menemukan rangkaian kata-kata bermakna dalam buku ini.Tapiii, kalau tidak dicermati secara cerdas, mungkin juga akan menyebabkan timbulnya harapan palsu akan pengorbanan yang berlebihan :p 
Seperti tokoh Tegar. Ia yang melakukan pengorbanan yang sungguh besar untuk Rosie dan anak-anaknya, pada akhirnya ia mendapatkan cinta Rosie. Di sisi lain, pengorbanan Sekar tidak kalah bukan? Tapi kenapaa dia nasibnya malang sekali. Sedang Rosie? Tere Liye kurang melukiskan powernya Rosie hingga Rosie gagal mendapatkan simpati saya sebagai pembaca. Saya gemes sama Rosie. Dia seperti tidak punya pendirian antara Nathan dengan Tegar. Masa dua-duanya dia cintai dalam waktu bersamaan (terlihat dari keputusannya untuk menunda pernikahan selama enam bulan setelah tahu Tegar mencintainya. Juga ia begitu terpengaruh secara psikis saat Tegar tak sengaja menyatakan perasaan di masa lalunya saat Rosie depresi):(
Di sisi lain, anak-anak Rosie justru terlihat lebih dewasa daripada ibunya sendiri. Anak-anak 'tua', begitu sebuatan beberapa teman. Sakura yang begitu tegar menerima kenyataan bahwa salahsatu jarinya tidak dapat digerakkan, Lili si bungsu tiga tahun tapi mampu merengek dengan kata-kata yang 'wah' di penghujung cerita. Beberapa sisi yang unbalanced ini sangat disayangkan :( 
Yah tapi tetap saja sebuah kisah yang indah. Karya Tere Liye selalu sarat dengan pemahaman terhadap hidup, itu yang menjadikan karyanya bernilai. Empat bintang untuk feeling yang saya rasakan sewaktu membaca buku ini.

1 komentar:

cuma kata kata mengatakan...

Dari Penamaan lakon wanitanya saja saya sudah suka... the names of flower

Poskan Komentar