Jumat, 01 Juni 2012

Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Pengarang: Tere Liye
Penerbit: Republika
Tahun Terbit:Januari 2012 (Cetakan VIII)

Rabu, 23 Mei 2012

Three Cups of Tea




Judul Buku: Three Cups of Tea
Penerbit: Hikmah
Tahun Terbit: 2008
Penulis: Greg Mortenson dan David Oliver Relin

Setelah gagal memenuhi ambisinya mencapai puncak K2, Mortenson terseok-seok menuruni lereng gunung. Dalam keadaan kehabisan perbekalan dan sakit, dia berharap tiba di Askole secepatnya untuk memperoleh yang ia perlukan. Namun alih-alih sampai di Askole, Mortenson ambruk di depan gerbang desa Korphe.
“… (Di Pakistan dan Afghanistan), kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis; pada cangkir pertama engkau masih orang asing; cangkir kedua, engkau teman; dan pada cangkir ketiga, engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap untuk berbuat apa pun—bahkan untuk mati.”
Demikian ucap Haji Ali, Kepala Desa Korphe. Kehangatan seperti inilah yang diberikan oleh suku Balti, suku yang hidup di daerah terpencil, jauh tersembunyi di kaki gunung K2 kepada George Mortenson. Disana ia dirawat dengan baik oleh penduduk desa. Maka ketika dia menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak Korphe bersekolah: duduk melingkar, berlutut di tanah yang membeku, dalam udara dingin, tertib mengerjakan tugasnya, jantungnya serasa tercerabut.
“Aku akan membangun sebuah sekolah untuk desa ini. Aku berjanji.”
Maka dimulailah perjalanan seorang George Mortenson. Dari awalnya satu sekolah berdiri demi terpenuhi janji pada penduduk Korphe, lalu bertambah lagi lima puluh buah sekolah dalam satu dekade di daerah tempat lahirnya Taliban itu.
Kisah ini bukan sekedar jalan lurus saja. Banyak rintangan dan masalah yang dihadapi Mortenson. Namun begitu, ia tetap tak patah arang. Tak peduli meski ia tak punya uang bahkan untuk menghidupi dirinya sendiri; meski sempat tertawan saat konflik; meski berbeda latar suku, budaya, dan agamanya. Semua itu tak menghalanginya untuk mewujudkan kepeduliannya pada anak-anak di Pakistan dan Afghanistan agar mereka mendapat pendidikan yang layak. Maka Mortenson patut dijadikan inspirasi bagi kita mengenai kepedulian terhadap sesama manusia :).


Membaca buku ini, rasanya benar-benar mengikuti langkah Mortenson satu per satu dalam perjalanan panjangnya. Butuh total waktu dua setengah bulan untuk merampungkan buku ini. Saya katakan, buku ini benar-benar kaya akan inspirasi dan nilai-nilai mulia. Sayangnya, buku ini tidak dibuka dengan manis oleh penulisnya, sehingga banyak pembaca lain yang lelah di awal. Begitupun yang saya alami. Bagian awal buku ini, alur campuran yang digunakan terasa acak dan belepotan sehingga sulit dicerna. Selain itu juga, kadang-kadang saya menemukan kalimat-kalimat yang strukturnya menggantung. Namun karena kisahnya sendiri terlampau  luar biasa, saya beri empat bintang untuk buku ini. Lima bintang untuk kisah Mortenson dan minus satu untuk cara penulisan bukunya :).

Kamis, 16 Februari 2012

Ptolemy's Gate: The Bartimaeus Trilogy



Judul: Ptolemy’s Gate
Pengarang: Jonathan Stroud
Dialih-bahasakan oleh Poppy Damayanti C.
Tahun Terbit: Maret 2010 (Cetakan Ketiga)

Epic.

***
Dua ribu tahun telah berlalu sejak jin Bartimaeus berada di puncak kejayaan—tak terkalahkan dalam pertempuran dan berteman dengan sang empu penyihir, Ptoelemy. Sekarang, karena ia terperangkap di Bumi dan diperlakukan seenaknya oleh masternya, Nathaniel, energy Bartimaeus memudar dengan cepat.

Ya, saking sedikitnya tenaga yang tersisa, Bartimaeus berkali-kali sekarat K. Shame on you, Nath—um, Mandrake!

Sementara itu, di dunia bawah tanah London, Kitty Jones yang buron diam-diam melakukan riset tentang sihir dan demon.

Ya, percakapannya dengan Bartimaeus saat masih menjadi tawanan Mandrake, membuatnya sangat penasaran. Ia harus mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benaknya sejak saat itu, bagaimanapun caranya. Maka dengan identitas baru, ia menyamar menjadi Lizzie, seorang commoner yang memiliki ketertarikan besar kepada dunia sihir dan bekerja pada penyihir cacat, Mr. Button. Sambil membantu Mr. Button--meminjam literatur-literatur sihir, menggambar pentacle untuk pemanggilan, membersihkan ruangan--ia banyak mengorek informasi dari Mr. Button dan buku-buku yang ada di rumah Mr. Button. Setelah memakan waktu yang agak lama, Kitty menemukan sesuatu yang dianggap mitos di dunia sihir: Gerbang Ptolemy, yang ajaibnya, terkait dengan Bartimaeus.

Semua mencapai puncaknya ketika Bartimaeus, Nathaniel, dan Kitty harus membongkar konspirasi mengerikan yang melibatkan para penyihir dan jin berkekuatan dahsyat, serta menghadapi ancaman paling berbahaya sepanjang sejarah ilmu sihir.

Eksperimen Makepeace yang aneh. Mr. Hopkins yang ternyata mencurigakan. Penyerangan ke Amerika yang hasilnya tak sesuai harapan. Keamanan dalam negeri yang makin rapuh. Pemerintah yang makin tak dipercaya. Aliansi Commoner semakin gencar membahas pemberontakan. Pemberontakan terselubung untuk menggulingkan pemerintah. Semua tak terkendali. Kekacauan terjadi dimana-mana. Saat kekuasaan diambil alih dari tangan penyihir—ternyata tak membawa kesejahteraan pada commoners. Bahkan, sebaliknya. Bagaimana mereka bertiga menyelesaikan semuanya?
***

  
Hmm ya, bisa komentar apalagi saya? Rasanya benar-benar puas mengikuti trilogy ini sampai akhir. Ending yang tak biasa. Luar biasa.
Kalau ada yang merasa agak bosan dengan detail-detail di buku pertama, atau agak pusing dengan buku kedua (kalau saya ngga ngerasain sih, hehe), buku ketiga ini mampu menutup rasa kurang puas yang ada. Selayaknya trilogy, ketiga buku merupakan kesatuan cerita yang utuh. Pengarangnya meletakkan detail-detail remeh pada buku pertama dan kedua untuk dijadikan unsur pembangun buku ketiga ini. Oleh karenanya, buku penutup ini menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan dalam benak kita saat membaca kedua buku sebelumnya.

Dalam buku ini, pengarang juga menambahkan potongan kenangan Bartimaeus di Alexandria, 125 SM. Perjalanan dirinya saat mengabdi pada Ptolemy (dan tentunya ini memang bagian yang penting). Dari bagian ini, kita akan mengetahui lebih jauh tentang Bartimaeus dengan masternya, Ptolemy. Bagaimana hubungan mereka, bagaimana ditemukannya suatu gerbang yang kini disebut gerbang Ptolemy, bagaimana bisa Ptolemy menjadi satu-satunya master yang mendapatkan penghormatan Bartimaeus, hingga kini.

Lebih banyak kejutan tak terduga dalam buku ini. Bartimaeus, tetap sarkas dan menghibur seperti biasa. Narsisnya lebih terlihat dibanding buku sebelumnya. Mandrake, akhirnya seperti abg lain, merasakan juga yang namanya cinta (hm, pada siapakah? Farrar? atau Kitty?). Ada juga tokoh dari buku lalu yang kukira--Bartimaeus juga mengiranya--telah mati. 

Satu hal yang penting, trilogi ini sangat tidak disarankan untuk dibaca secara acak. Nanti malah pusing dan ngga dapet feel-nya. 

Lima bintang untuk buku ini :).

Senin, 13 Februari 2012

The Golem's Eye: The Bartimaeus Trilogy

Judul: The Golem's Eye
Pengarang: Jonathan Stroud
dialih-bahasakan oleh Poppy Damayanti C.
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: Maret 2010 (Cetakan Keempat)

Sabtu, 11 Februari 2012

The Amulet of Samarkand: The Bartimaeus Trilogy

Judul: The Amulet of Samarkand
Pengarang: Jonathan Stroud
dialih-bahasakan oleh Poppy Damayanti C.
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: Maret 2010 (Cetakan kelima)

Bukan. Ini adalah dunia yang samasekali lain dari Harry Potter.

Jumat, 03 Februari 2012

Life Traveler


Life Traveler: Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan
Penulis: Windy Ariestanty
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2011

...because travelers never thinks that they are foreigners.

Kamis, 02 Februari 2012

Heist Society


Judul Buku: Heist Society
Pengarang: Ally Carter (alih bahasa o/ Alexandra Karina)
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2011