Selasa, 24 Januari 2012

The Alchemist


Judul Buku: The Alchemist
Penulis: Paulo Coelho
Alih Bahasa: Tanti Lesmana
Tahun Terbit: Maret 2011 (cetakan kesebelas)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Naah kalo ini baru buku pembangkit motivasi, yang nyimpen banyak semangat dalam buku ini :), tokohnya ngga ngeluh ga ngeratapin nasib sampe nyalahin orang segala u.u

Mengisahkan perjalanan Santiago, pemuda pengembala yang mengikuti mimpi dan suara hatinya. Berawal saat terbangun di gereja kecil yang terbengkalai, menemui gypsy, bertemu pula dengan seseorang yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Raja Salem, kemudian berkelana melintas benua, bertemu banyak rekan, banyak dunia, berbagai karakter; satu mimpi, satu tujuan, dan satu cinta. Juga berkesempatan melakukan perjalanan dengan seorang alkemis yang mengajarinya mengenai Jiwa Dunia, cinta, kesabaran, dan kegigihan.

***
Cara membaca buku ini, tentu saya bukannya , meresapi diri menjadi seorang Santiago. Dia punya paham yang berbeda dan tentu berbahaya buat saya kalau sampai menghayati apa yang ia sebut jiwa dunia dan hal-hal lain. Membaca buku ini, rasanya lagi nonton lewat pensieve (berasa Harry Potter hehe). Cukup melongokkan kepala ke dalam cerita untuk mengikuti halaman demi halaman. Menakjubkannya buku ini adalah seakan energi positif tidak pernah habis dari buku ini. Banyak quote-quote yang menarik dari buku ini.

Satu-satunya kewajiban sejati manusia adalah mewujudkan takdirnya. Semua satu adanya. Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya. (Coelho, 31--Perkataan Melkisedek, Raja Salem pada Santiago)

Perbukitan Andalusia hanya dua jam perjalanan jauhnya, tetapi antara tempat ini dan Piramida-Piramida itu terbentang padang pasir luas. Namun si anak lelaki merasa bisa melihat situasi ini dari sudut pandang lain: sebenarnya dia dua jam lebih dekat dengan harta karunnya... fakta bahwa dua jam itu mulur menjadi setahun penuh bukanlah masalah baginya. (Coelho, 84--Saat Santiago meniatkan kembali untuk mengejar mimpinya)

"Kalau emas yang kautemukan itu terbuat dari unsur murni, maka dia tidak akan rusak. Dan kau bisa selalu kembali. Tapi kalau emas yang kautemukan itu hanya sepuhan belaka, seperti kilasan bintang jatuh, kau tidak akan menemukan apa-apa saat kau pulang nanti." (Coelho, 159--Perumpamaan tentang perempuan (Fatima) saat ditinggal pergi)

"Sebab bukan cinta namanya kalau hanya berdiam diri saja seperti padang pasir, atau menjelajahi dunia seperti angin. Bukan cinta namanya kalau hanya memandang segala sesuatu dari kejauhan, seperti yang kaulakukan. Cinta adalah daya yang mengubah dan memperbaiki Jiwa Dunia. ...dan kita pula yang menentukan apakah dunia tempat tinggal kita menjadi lebih baik atau lebih buruk. Di situlah kekuatan cinta memainkan perannya. Sebab saat kita mencintai, kita selalu berusaha menjadi lebih baik lagi." (Coelho, 193--Perkataan Santiago pada matahari)

Dan tentunya bagian yang menarik hati, saat ia sampai di tempat persis seperti visinya dalam mimpi, disana dia hanya mendapat petunjuk bahwa harta karunnya ada di titik awal tempat ia bermula, di bawah pohon sycamore di sebuah gereja terbengkalai. Tepat di titik cerita ini bermula. Namun ia tidak kesal dan merasa sia-sia. Alih-alih menyumpahi dan menyesali jerih payahnya, ia begitu semangat, sekali lagi, lebih dekat dengan harta karunnya.

.hem jadi saya pikir, mungkin divisikannya piramida itu agar ia bertemu dengan Fatima. just a thought :).



0 komentar:

Poskan Komentar