Minggu, 22 Januari 2012

The Boy Who Ate Stars



Judul Buku: The Boy Who Ate Stars
Pengarang: Kochka
Terbit Agustus 2008
Penerbit Gramedia

"Tahu tidak," Marie melanjutkan, "hidup di dunia berarti memandang satu sama lain, dengan cara yang sama seperti bumi bergerak mengelilingi matahari. Begitulah cara kerja tata surya. Tapi orang autistik itu seperti planet tersendiri yang kebetulan saja mendarat di sini, dan bukannya memandang para penghuni bumi lainnya sementara dia bergerak di sekeliling mereka, dia berpusar di dalam dirinya sendiri. Jadi, dia menjadi sistem planetnya sendiri, dan usaha untuk menjangkaunya sama sulitnya dengan naik komidi putar ketika wahana itu sudah bergerak."

Hmm ya. Buku ini merajut sebuah kisah mengenai anak berkebutuhan khusus: autisme. Ada Lucy sang periset; Theo temannya; Francois, anjing kecil pemalu milik kenalan ibunya; Marie; Maougo; dan tentunya Matthew, peri kecil yang sangat istimewa. Bukan buku berat yang menggunakan bahasa berliku-liku. Sebaliknya, hanya sebuah kisah ringan yang sederhana: sebuah pengamatan mengenai autisme seorang anak yang berumur 4 tahun dari sudut pandang anak berusia 12 tahun.

 Tadi malam, aku berdiri untuk menempelkan sebuah bintang di bawah tempat tidur mezaninku. Itu untuk Matthew, anak yang merupakan planet tersendiri. Supaya bisa mengenal planet itu, kau harus menyingkirkan berbagai aturan dan prasangka dan bahasa, dan melemparkan dirimu kepadanya tanpa rasa takut mengikuti perjalanan menembus angkasa luar. Kalau sudah besar nanti, aku ingin mengajar anak-anak austik. Matthew adalah pertempuranku sendiri dengan planet-planet! 

Seorang jenius adalah seseorang yang mampu menjelaskan hal yang rumit dengan cara yang sederhana. Hal itulah yang dapat saya tangkap dari Kochka, sang penulis. Sederhana, simpel, dan cantik, begitu saya menggambarkan buku ini. Pengarangnya pinter menghidupkan para tokoh, terutama sang tokoh utama: Lucy. Tutur bahasanya simpel dan menyenangkan, mengalir begitu saja. Buku ini membimbing kita untuk mengenal autis selangkah lebih dekat. Juga penyikapan yang baik atas anak-anak yang mengalami kebutuhan khusus tersebut. Four thumbs up!! (ikut ngacungin jempol kaki) 


0 komentar:

Poskan Komentar