Senin, 23 Januari 2012

The Thirteenth Tale




Judul Buku: The Thirteenth Tale
Penulis: Diane Setterfield
Alih Bahasa: Chandra Novwidya Murtiana
Tahun terbit: 2006
Penerbit:  Gramedia Pustaka Utama


Hem, kayanya saya baca buku ini bahkan sebelum blog ini dibuat deh. Tapi saking menariknya buku ini, rasanya sayang kalau saya ngga nge-review buku ini disini.

Dikisahkan seorang penulis dongeng ternama, Vida Winter yang sepanjang hidupnya, belum pernah terkorek jati dirinya oleh interviewer manapun. Hingga akhirnya Ia memutuskan untuk membeberkan siapa dirinya selama hidup enam puluh tahun kepada seorang penulis biografi muda, Margaret Lea.

Melalui interview demi interview, Vida Winter mengisahkan masa lalunya, sepotong demi sepotong, misteri demi misteri seperti layaknya kepingan puzzle. Saat potongan-potongan itu tersusun menjadi sebuah gambaran besar, Margaret menyadari bahwa terdapat potongan puzzle yang hilang, dan juga kenyataan bahwa potongan puzzle yang dimiliki oleh Vida Winter belumlah menghasilkan sebuah karya yang utuh. Ia pun mengambil peran tambahan untuk melengkapi kisah ini.

Inilah kisah Vida dan keluarga Angelfield: Isabelle yang cantik dan keras kepala, si kembar Adeline dan Emmeline yang liar, rumah besar Anglefield yang tua dan nyaris ambruk, serta semua penghuninya--hidup atau mati.
Sementara Margaret tenggelam dalam dongeng Vida, rahasia kelam itu lambat laun tersingkap, dan saat kebenaran mengemuka, kedua wanita itu pun harus menghadapi hantu-hantu yang selama ini membayangi hidup mereka. 

***
Hem, meski judulnya The Thirteenth Tale--Dongeng Ketigabelas, buku ini bukan buku yang menceritakan putri dan pangeran yang hidup happily ever after setelah ngebunuh naga. Bukan juga bacaan segala usia. Di belakangnya aja labelnya Novel Dewasa. Saya mikir mungkin 16-18 tahun ke atas kali ya.
Konflik dua generasi yang pelik, berhasil dibawakan dengan ringan. Jadi ngga usah mengerutkan kening waktu membaca ini ataupun ngebalik-balik halaman sebelumnya biar ngerti ceritanya. Semuanya mengalir dan..saya yang bacanya takjub--sekaligus merinding bacanya. Intinya sih, konflik ceritanya bikin buku ini layak dapet rating lima bintang dari saya :)

0 komentar:

Poskan Komentar